Sabtu, 30 April 2016

Aku Tidak Aneh Hanya Berbeda

Di luar sana aku selalu jadi pusat perhatian banyak orang. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan penampilanku. Mereka menganggap penampilanku sebagai lelucon. Aku selalu menyayangkan anggapan orang tentang diriku. Sejujurnya aku begitu menyukai penampilanku dan aku mulai menyayangkan anggapan orang bahwa aku ini “gila”. Aku masih ingat malam itu aku menghadiri satu pertemuan dengan rekanku di sebuah kafe. Jujur aku tidak menyukai kafe itu sama sekali. Bagiku kafe itu sama saja dengan warung kopi yang ada di pinggiran jalan. Pencahayaan jelek kalau tidak buruk, penataan ruangan sama saja hingga pertama kali memasuki kafe ruangannya akan terlihat sempit dan “kumuh”. Bukan karena lantai atau meja yang berdebu. Aku datang sepuluh menit lebih awal, itu segaja aku lakukan. Agar Aku punya waktu lebih untuk memperhatikan tempat yang baru aku datangi; sudah jadi kebiasaan. Sepuluh menit pertama aku gunakan untuk memperhatikan kafe itu secara keseluruhan mulai dari tempat parkir, pintu masuk, kursi, meja, menu makanan, toilet sampai pakaian si pelayan kafe. Penilaianku terhadap kafe itu buruk atau konsep kafe itu hadir bukan di peruntukan orang berduit dan itu tidak sebanding dengan harga menu yang “waah” modifikasi ruangan yang cocok untuk kalangan minoritas bukan eksklusif seperti ide awal kefe itu yang terlihat dari banyaknya lukisan yang menempel ditiap sudut ruangan yang sepintas terlihat seperti galeri seni. Sungguh mengecewakan.     

Namun dari penilaian minus itu aku menyukai satu hal dari kafe itu dan tertarik untuk mempertanyakannya. “Mengapa begitu banyak lukisan disini?”. Ini bukan galeri seni. Ini kafe tempat orang menghabiskan banyak duit dan tempat terbaik untuk menghabiskan waktu dengan pelayanan eksklusif. dan lukisan yang tergambar di sana bukan lukisan realis atau naturalis yang menampilkan tubuh wanita telanjang atau pemandangan alam atau bangunan bersejarah yang punya nilai historis dan estetika. Kebanyakan lukisannya menampilkan gambar-gambar aneh dengan dua atau lebih objek yang di gambar rumit namun satu-dua objek itu berhubungan dan saling terikat jika di ibaratkan gambar yang terlihat disana hanya sebuah simbol yang mempunyai arti sendiri-sendiri dan simbol-simbol itu akan menjadi makna jika kita sebagai penikmat dapat menggambungkan artinya secara keseluruhan dari satu simbol dengan simbol lainnya yang sulit dipahami bahkan untuk melihatnya saja pusing.

Tak lebih dari sepuluh menit, kawanku datang. Dia tampak aneh melihat keberadanku yang saat itu sedang ngobrol dengan pemilik kafe. Aku sengaja menghubunginya, menyuruh dia untuk bercerita tentang lukisan yang ada di kafenya. Dia orangnya hangat dan masih muda, mencerikan semuanya dengan detail menggunakan gaya bahasa yang santai. Dan dia juga bertanya kenapa aku mengundangnya ketempat duduku. Aku hanya menjawab “Aku tertarik dengan salah satu lukisannya.” Tentu saja itu bukan jawaban jujur. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di pikirannya memajang banyak lukisan dalam kafenya dan kenapa hanya ada lukisan bergaya Surelisme di sana. Setelah kawanku duduk si pemilik kafe dengan sopan mengundurkan diri kembali ke tempat kerjanya yang berada di lantai dua.


“Siapa Dia?” tanya kawanku “Pemilik kafe ini, sengaja aku menyuruhnya datang ke sini.” Jawabku . “Lalu?” “Aku suka cerita dia. Kenapa dia memajang lukisan di kafenya.” Aku tahu dia menyukai seni, tapi bukan itu masalahnya, ternyata dia sengaja memajang lukisan di kafenya ini bukan untuk terlihat berkelas tapi dia melakukan itu sebagai bentuk pertahan diri karena dia sering diangggap “aneh” oleh teman-temannya itu sebabnya kafe ini di gambar dengan lukisan-lukisan “aneh” dan kafe ini di ibaratkan isi ketidak sadarannya. “Ucapanmu juga sama anehnya dengan si pemilik kafe. Hahaha.” Rekanku tertawa aku pun ikut tertawa. Hahahaha