Di luar sana aku selalu jadi
pusat perhatian banyak orang. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan
penampilanku. Mereka menganggap penampilanku sebagai lelucon. Aku selalu
menyayangkan anggapan orang tentang diriku. Sejujurnya aku begitu menyukai
penampilanku dan aku mulai menyayangkan anggapan orang bahwa aku ini “gila”. Aku
masih ingat malam itu aku menghadiri satu pertemuan dengan rekanku di sebuah kafe.
Jujur aku tidak menyukai kafe itu sama sekali. Bagiku kafe itu sama saja dengan
warung kopi yang ada di pinggiran jalan. Pencahayaan jelek kalau tidak buruk,
penataan ruangan sama saja hingga pertama kali memasuki kafe ruangannya akan
terlihat sempit dan “kumuh”. Bukan karena lantai atau meja yang berdebu. Aku datang
sepuluh menit lebih awal, itu segaja aku lakukan. Agar Aku punya waktu lebih
untuk memperhatikan tempat yang baru aku datangi; sudah jadi kebiasaan. Sepuluh
menit pertama aku gunakan untuk memperhatikan kafe itu secara keseluruhan
mulai dari tempat parkir, pintu masuk, kursi, meja, menu makanan, toilet sampai
pakaian si pelayan kafe. Penilaianku terhadap kafe itu buruk atau konsep kafe itu
hadir bukan di peruntukan orang berduit dan itu tidak sebanding dengan harga menu
yang “waah” modifikasi ruangan yang cocok untuk kalangan minoritas bukan
eksklusif seperti ide awal kefe itu yang terlihat dari banyaknya lukisan yang
menempel ditiap sudut ruangan yang sepintas terlihat seperti galeri seni. Sungguh
mengecewakan.
Namun dari penilaian minus itu
aku menyukai satu hal dari kafe itu dan tertarik untuk mempertanyakannya. “Mengapa
begitu banyak lukisan disini?”. Ini bukan galeri seni. Ini kafe tempat orang
menghabiskan banyak duit dan tempat terbaik untuk menghabiskan waktu dengan
pelayanan eksklusif. dan lukisan yang tergambar di sana bukan lukisan realis atau
naturalis yang menampilkan tubuh wanita telanjang atau pemandangan alam atau
bangunan bersejarah yang punya nilai historis dan estetika. Kebanyakan
lukisannya menampilkan gambar-gambar aneh dengan dua atau lebih objek yang di gambar
rumit namun satu-dua objek itu berhubungan dan saling terikat jika di ibaratkan
gambar yang terlihat disana hanya sebuah simbol yang mempunyai arti
sendiri-sendiri dan simbol-simbol itu akan menjadi makna jika kita sebagai
penikmat dapat menggambungkan artinya secara keseluruhan dari satu simbol
dengan simbol lainnya yang sulit dipahami bahkan untuk melihatnya saja pusing.
Tak lebih dari sepuluh menit,
kawanku datang. Dia tampak aneh melihat keberadanku yang saat itu sedang ngobrol
dengan pemilik kafe. Aku sengaja menghubunginya, menyuruh dia untuk bercerita
tentang lukisan yang ada di kafenya. Dia orangnya hangat dan masih muda, mencerikan semuanya dengan detail menggunakan gaya bahasa yang santai. Dan dia
juga bertanya kenapa aku mengundangnya ketempat duduku. Aku hanya menjawab “Aku
tertarik dengan salah satu lukisannya.” Tentu saja itu bukan jawaban jujur. Aku
hanya ingin tahu apa yang ada di pikirannya memajang banyak lukisan dalam
kafenya dan kenapa hanya ada lukisan bergaya Surelisme di sana. Setelah kawanku
duduk si pemilik kafe dengan sopan mengundurkan diri kembali ke tempat kerjanya
yang berada di lantai dua.
“Siapa Dia?” tanya kawanku “Pemilik
kafe ini, sengaja aku menyuruhnya datang ke sini.” Jawabku . “Lalu?” “Aku suka
cerita dia. Kenapa dia memajang lukisan di kafenya.” Aku tahu dia menyukai
seni, tapi bukan itu masalahnya, ternyata dia sengaja memajang lukisan di
kafenya ini bukan untuk terlihat berkelas tapi dia melakukan itu
sebagai bentuk pertahan diri karena dia sering diangggap “aneh” oleh
teman-temannya itu sebabnya kafe ini di gambar dengan lukisan-lukisan “aneh” dan
kafe ini di ibaratkan isi ketidak sadarannya. “Ucapanmu juga sama anehnya dengan
si pemilik kafe. Hahaha.” Rekanku tertawa aku pun ikut tertawa. Hahahaha