Minggu, 08 Mei 2016

percakapan Dengan Diri Sendiri

Sudah kucoba, jujur aku muak menunggu lama sedang di luar waktu berjalan tak peduli. Dia terus bertanya kapan kau mulai …? Aku tak tahu! Aku tak punya jawaban; pasti-kapan? Sekarang yang kulakukan hanya mengasingkan diri berpaling dari keramaian berdamai dengan diri sendiri.
Dengan sisa kesabaran yang masih tersimpan dan terjaga pikiran “kotor” mundur teratur kembali ke tempat di mana amarah mengabdikan diri sebagai nafsu yang kadang terlihat samar tak mudah dikenali bersifat licik. Lalu aku membaringkan diri pada kesunyian berharap di sana berjumpa diri sejati yang terbebas dari segala jenis nafsu yang berdiri tegap dengan satuan bala tentara tak bersenjata. Sekalipun orang suci jauh dalam dirinya tersimpan nafsu hanya saja, orang suci dapat mengolah nafsu itu.

Percakapan dengan diri sendiri berakhir pikiran “kotor” kembali menyeruak masuk dalam kesadaran tak kala sunyi berganti riuh kehidupan. Dalam kondisi terjaga mencoba mengikat kembali pikiran-pikiran lama yang kini tersimpan dalam ketidasadaran membuka lembar masa lalu yang tersimpan rapi dalam folder bernama kenangan. Gambar demi gambar bermunculan satu per satu dari folder kenangan. Aneh aku masih ingat dengan baik detailnya walau kejadian itu terjadi bertahun-tahun lalu. Begitu banyak dunia di semesta ini dan hanya sebagian saja yang dapat dipahami dan dimengerti sedang sisanya masih menjadi misteri dan belum terpecahkan atau apakah pikiran kita sendiri yang menggolongkan memasukannya dalam kotak-kotak memori kalau dibutuhkan otak kita dengan otomatis mencarinya sendiri.  


Persetan dengan itu semua! Kesabaranku sudah habis? Sekarang hanya menunggu waktu untuk mengakhiri semua ini. Hidup bisa berubah sedemikian cepatnya! Bagaimanapun, yang penting menunjukan kepercayaan diri. “Kucoba dan kucoba lagi, tapi tak berhasil. Aku ingat tentang …..” Ketika akhirnya diriku sadar setelah kejadian mengerikan akibat kejahatan yang telah kulakukan.

Jumat, 06 Mei 2016

Alien

Mahluk macam apa aku ini? Aku tak paham
Manusia menyebutku aku mahluk luar angkasa. Aku tak mengerti cara mereka berpikir
Bagiku, cara berpikir mereka rumit
Lalu apa yang mereka dapat dari berpikir?

Aku ditakdirkan tidak seperti mereka
Yang waktunya habis untuk berpikir
Aku bukan berasal dari Mars, Jupiter atau Pluto
Aku berasal dari tempat dimana pikiran itu berada

Aku terlahir melalui imajinasi seorang ateis pemabuk
Aku dia ciptakan agar orang mempercayaiku
Dan karena aku keimanan mereka hilang
Sedang mereka menyakini keberadaanku dengan dalil kitab suci  

Sunggu aku merasa terhina
Kehadiranku jadikan propaganda dan tempat memupuk materi
Mereka berselisih mempertanyakan keberadaanku setiap waktu
Disana. Pemabuk itu tertawa, karena banyak manusia hilang keimanannya

Sabtu, 30 April 2016

Aku Tidak Aneh Hanya Berbeda

Di luar sana aku selalu jadi pusat perhatian banyak orang. Tidak sedikit orang yang mempertanyakan penampilanku. Mereka menganggap penampilanku sebagai lelucon. Aku selalu menyayangkan anggapan orang tentang diriku. Sejujurnya aku begitu menyukai penampilanku dan aku mulai menyayangkan anggapan orang bahwa aku ini “gila”. Aku masih ingat malam itu aku menghadiri satu pertemuan dengan rekanku di sebuah kafe. Jujur aku tidak menyukai kafe itu sama sekali. Bagiku kafe itu sama saja dengan warung kopi yang ada di pinggiran jalan. Pencahayaan jelek kalau tidak buruk, penataan ruangan sama saja hingga pertama kali memasuki kafe ruangannya akan terlihat sempit dan “kumuh”. Bukan karena lantai atau meja yang berdebu. Aku datang sepuluh menit lebih awal, itu segaja aku lakukan. Agar Aku punya waktu lebih untuk memperhatikan tempat yang baru aku datangi; sudah jadi kebiasaan. Sepuluh menit pertama aku gunakan untuk memperhatikan kafe itu secara keseluruhan mulai dari tempat parkir, pintu masuk, kursi, meja, menu makanan, toilet sampai pakaian si pelayan kafe. Penilaianku terhadap kafe itu buruk atau konsep kafe itu hadir bukan di peruntukan orang berduit dan itu tidak sebanding dengan harga menu yang “waah” modifikasi ruangan yang cocok untuk kalangan minoritas bukan eksklusif seperti ide awal kefe itu yang terlihat dari banyaknya lukisan yang menempel ditiap sudut ruangan yang sepintas terlihat seperti galeri seni. Sungguh mengecewakan.     

Namun dari penilaian minus itu aku menyukai satu hal dari kafe itu dan tertarik untuk mempertanyakannya. “Mengapa begitu banyak lukisan disini?”. Ini bukan galeri seni. Ini kafe tempat orang menghabiskan banyak duit dan tempat terbaik untuk menghabiskan waktu dengan pelayanan eksklusif. dan lukisan yang tergambar di sana bukan lukisan realis atau naturalis yang menampilkan tubuh wanita telanjang atau pemandangan alam atau bangunan bersejarah yang punya nilai historis dan estetika. Kebanyakan lukisannya menampilkan gambar-gambar aneh dengan dua atau lebih objek yang di gambar rumit namun satu-dua objek itu berhubungan dan saling terikat jika di ibaratkan gambar yang terlihat disana hanya sebuah simbol yang mempunyai arti sendiri-sendiri dan simbol-simbol itu akan menjadi makna jika kita sebagai penikmat dapat menggambungkan artinya secara keseluruhan dari satu simbol dengan simbol lainnya yang sulit dipahami bahkan untuk melihatnya saja pusing.

Tak lebih dari sepuluh menit, kawanku datang. Dia tampak aneh melihat keberadanku yang saat itu sedang ngobrol dengan pemilik kafe. Aku sengaja menghubunginya, menyuruh dia untuk bercerita tentang lukisan yang ada di kafenya. Dia orangnya hangat dan masih muda, mencerikan semuanya dengan detail menggunakan gaya bahasa yang santai. Dan dia juga bertanya kenapa aku mengundangnya ketempat duduku. Aku hanya menjawab “Aku tertarik dengan salah satu lukisannya.” Tentu saja itu bukan jawaban jujur. Aku hanya ingin tahu apa yang ada di pikirannya memajang banyak lukisan dalam kafenya dan kenapa hanya ada lukisan bergaya Surelisme di sana. Setelah kawanku duduk si pemilik kafe dengan sopan mengundurkan diri kembali ke tempat kerjanya yang berada di lantai dua.


“Siapa Dia?” tanya kawanku “Pemilik kafe ini, sengaja aku menyuruhnya datang ke sini.” Jawabku . “Lalu?” “Aku suka cerita dia. Kenapa dia memajang lukisan di kafenya.” Aku tahu dia menyukai seni, tapi bukan itu masalahnya, ternyata dia sengaja memajang lukisan di kafenya ini bukan untuk terlihat berkelas tapi dia melakukan itu sebagai bentuk pertahan diri karena dia sering diangggap “aneh” oleh teman-temannya itu sebabnya kafe ini di gambar dengan lukisan-lukisan “aneh” dan kafe ini di ibaratkan isi ketidak sadarannya. “Ucapanmu juga sama anehnya dengan si pemilik kafe. Hahaha.” Rekanku tertawa aku pun ikut tertawa. Hahahaha