Sudah kucoba, jujur aku muak
menunggu lama sedang di luar waktu berjalan tak peduli. Dia terus bertanya
kapan kau mulai …? Aku tak tahu! Aku tak punya jawaban; pasti-kapan? Sekarang
yang kulakukan hanya mengasingkan diri berpaling dari keramaian berdamai dengan
diri sendiri.
Dengan sisa kesabaran yang masih
tersimpan dan terjaga pikiran “kotor” mundur teratur kembali ke tempat di mana
amarah mengabdikan diri sebagai nafsu yang kadang terlihat samar tak mudah
dikenali bersifat licik. Lalu aku membaringkan diri pada kesunyian berharap di
sana berjumpa diri sejati yang terbebas dari segala jenis nafsu yang berdiri
tegap dengan satuan bala tentara tak bersenjata. Sekalipun orang suci jauh
dalam dirinya tersimpan nafsu hanya saja, orang suci dapat mengolah nafsu itu.
Percakapan dengan diri sendiri berakhir
pikiran “kotor” kembali menyeruak masuk dalam kesadaran tak kala sunyi berganti
riuh kehidupan. Dalam kondisi terjaga mencoba mengikat kembali pikiran-pikiran
lama yang kini tersimpan dalam ketidasadaran membuka lembar masa lalu yang
tersimpan rapi dalam folder bernama kenangan. Gambar demi gambar bermunculan
satu per satu dari folder kenangan. Aneh aku masih ingat dengan baik detailnya
walau kejadian itu terjadi bertahun-tahun lalu. Begitu banyak dunia di semesta
ini dan hanya sebagian saja yang dapat dipahami dan dimengerti sedang sisanya
masih menjadi misteri dan belum terpecahkan atau apakah pikiran kita sendiri yang
menggolongkan memasukannya dalam kotak-kotak memori kalau dibutuhkan otak kita
dengan otomatis mencarinya sendiri.
Persetan dengan itu semua! Kesabaranku
sudah habis? Sekarang hanya menunggu waktu untuk mengakhiri semua ini. Hidup bisa
berubah sedemikian cepatnya! Bagaimanapun, yang penting menunjukan kepercayaan
diri. “Kucoba dan kucoba lagi, tapi tak berhasil. Aku ingat tentang …..” Ketika akhirnya diriku sadar setelah kejadian
mengerikan akibat kejahatan yang telah kulakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar